Semua Tentang Lantai Laminate / Laminated Flooring

Lantai kayu laminate atau orang juga menyebutnya parket laminate merupakan salah satu material penutup lantai yang popular saat ini di Indonesia. Pertumbuhan penggunanya dari waktu kewaktu terus mengalami peningkatan. Lantai kayu laminate ini diminati karena mudah dipasang, disamping karena faktor harga yang jauh lebih bersahabat daripada material alam kayu atau batu.

Di Indonesia sendiri ada banyak sekali merek-merek lantai laminate yang tersedia dipasaran. Harga lantai laminate di Kota Jakarta dan Kota Surabaya berkisar antara Rp 175.000 – Rp 250.000 untuk kelas ekonomi, Rp 250.000 – Rp 500.000 untuk kelas premium dan Rp 500.000 – Rp 1.000.000 untuk kelas super premium. Sebagian besar merupakan barang impor yang berasal dari negara-negara Italia, Jerman, Amerika, Malaysia, Korea, Cina, dll.

Merujuk pada Wikipedia, lantai kayu laminate sendiri memiliki definisi yaitu lantai sintetis berlapis (multi-layers) yang digabungkan dengan lapisan permukaan tersimulasi. Simulasi lapisan permukaan yang dibuat biasanya motif kayu atau batu. Untuk lebih jelasnya bisa disimak penjelasan dibawah

Laminate Flooring

pic: canadafloor.ca

Dari gambar diatas kita dapat perhatikan lantai laminate memiliki 4 bagian utama, yaitu :

  1. Wear Layer

Wear layer adalah lapisan paling atas dari lantai laminate yang nantinya akan kita injak ketika sudah terpasang. Meskipun lapisan ini transparan, namun lapisan ini di desain agar kuat terhadap goresan dan tekanan. Setiap produsen lantai kayu laminate biasanya memberikan keterangan ukuran kekerasan produknya di kemasan untuk memberikan petunjuk bagi konsumen. Untuk area komersial, yaitu mal, kantor, dsb., akan membutuhkan wear layer yang lebih tinggi dari pada untuk area residensial. Hal ini dikarenakan area komersial memiliki traffic yang tinggi sehingga lebih banyak berpotensi mendapat gesekan dan tekanan.

Wear layer biasanya terdiri dari beberapa lapis melamin dengan aluminium oksida sehingga memberikan permukaan yang tahan lama dan tahan air.

  1. Patern Layer

Lapisan selanjutnya adalah patern layer yang merupakan lapisan yang diberikan tampilan motif lantai. Tampilan motif tersebut adalah hasil pencetakan secara digital. Biasanya desain motif yang dibuat adalah serat kayu dan batu. Namun masih memungkinkan apabila produsen memilih desain motif lainnya selain serat kayu dan batu.

  1. Substrate Layer

Lapisan berikutnya adalah substrate layer, yaitu lapisan ditengah yang tebal dan merupakan pusat kekuatan dari konstruksi lantai laminate. Substrate layer ini merupakan elemen struktural yang mendukung berat dan tekanan dari lalu lintas pejalan kaki diatasnya. Substrate layer biasanya dibuat dari partikel board, high density fiberboard (HDF), atau middle density fiberboard (MDF). Di pasar Indonesia, substrate layer yang palng banyak digunakan adalah jenis HDF Inti adalah elemen struktural yang mendukung berat dan tekanan lalu lintas pejalan kaki.

  1. Backing Layer

Lapisan paling bawah dari produk lantai laminate adalah backing layer. Backing layer merupakan lapisan stabilisasi karena memberikan stabilitas dan kekuatan pada papan laminasi. Fungsi lapisan backing layer ini sebagai penghalang kelembaban dari bawah lantai ke arah permukaan atas (moisture barrier).

Sebagaimana disebutkan diatas, bahwa lantai laminate ini banyak digemari salah satunya karena mudah dalam pemasangannya. Umumnya, lantai kayu laminate dipasang dengan cara floating atau hanya mengandalkan system klik tanpa menggunakan lem. Saking mudahnya cara pemasangan, bahkan Anda sendiri yang tidak memiliki background teknis bangunan, apabila memiliki waktu luang,  dapat memasangnya sendiri..wow. Berikut penjelasan untuk cara pemasangan lantai laminate dengan metode floating.

Panduan cara pemasangan lantai laminate

Langkah 1 – Bersihkan area lantai yang akan dipasang lantai laminate

Bersihkan dengan seksama area lantai yang akan dipasang lantai laminate sehingga terbebas dari kotoran-kotoran. Pastikan permukaan lantai tersebut rata, bila perlu gunakan alat bantu water-pass untuk pengecekannya.

Langkah 2 – Pasang moisture barrier

Untuk menjaga keawetan lantai laminate sangat direkomendasikan untuk menggunakan moisture barrier atau penahan kelembaban. Gelar moisture barrier menutupi seluruh area yang akan dipasang lantai laminate. Apabila Anda berencana akan menggunakan skirting/ plint, maka tutup juga dinding sekeliling area pemasangan kira-kira setinggi 5 cm. Material moisture barrier bisa menggunakan plastic cor yang agak tebal atau lebih disarankan menggunakan form sheet dengan ketebalan 1-2 mm.

pics: Pemasangan moisture barrier (formsheet); formsheet 2 mm; plastik cor.

 

 

 

Langkah 3 – Pemasangan lantai laminate

Pertama-tama pasanglah dahulu spacer, yaitu pemberi jarak antara dinding dengan lantai laminate. Disarankan untuk membuat spacer dengan ketebalan sekitar 1 cm. Spacer bisa dibuat menggunakan potongan kecil lantai laminate yang ada. Gunakan isolatip agar spacer tidak banyak bergerak selama proses pemasangan lantai. Jarak antara dinding dengan lantai sangat penting karena berfungsi sebagai ruang bagi laminate untuk muai susut. Apabila tidak diberikan ruang, maka lantai ruangan akan menggelembung pada saat laminate memuai dan ketika laminate menyusut akan terjadi rongga/ renggang antar sambungan laminate.
pic: diynetwork.com

Hal penting yang harus diingat adalah pemasangan lantai laminate harus “susun bata” dalam artian tidak boleh ada sambungan vertikal antar baris yang beruntun. Perhatikan gambar dibawah, itulah sebabnya baris kedua diawali dengan potongan papan laminate (bukan papan utuh).

pic: pemasangan susun-bata

Pasanglah secara memanjang dan selesaikan satu baris terlebih dahulu. Pemasangan baris pertama sangat krusial dan harus kuat karena akan menjadi “pegangan” unit laminate yang lain pada saat pemasangan berlangsung. Lanjutkan pemasangan baris kedua dan seterusnya dengan cara memasangkan bagian tongue dan groove nya. Angkat papan pada sudut untuk memungkinkannya mengatur / mengunci pada tongue dan groove nya dan ketuk papan laminate terhadap papan laminate sebelumnya di baris dengan alat palu dan potongan papan untuk menahan palu. Pemasangannya laminate sangat mudah karena menggunakan sambungan system klik. Sebenarnya tidak diperlukan lem untuk menyatukan bagian tongue dan groove, namun jika ingin lebih kuat serta mengurangi resiko muncul bunyi “krek” pada saat lantai laminate diinjak, pengguanaan lem dianjurkan. Lem yang digunakan bisa lem kayu biasa atau orang banyak menyebutnya lem putih. Harganya cukup murah dan banyak tersedia di toko-toko bangunan.

Untuk pemasangan lantai laminate, alat kerja yang digunakan cukup sederhana, yang wajib ada yaitu palu, kayu penahan palu.

 Langkah 4 – Pemasangan skirting/ plint

Lepaskan spacer yang dipasang di pinggir ruaangan dan pastikan kira-kira seperempat dari tinggi skirting sudah tertutup moisture barrier. Bahan skirting yang banyak tersedia di pasaran adalah MDF, PVC dan kayu solid, namun yang lebih banyak digunakan untuk projek lantai laminate biasanya adalah PVC karena lebih tahan terhadap kelembaban, anti rayap serta lebih murah.

Pemasangan skirting PVC lebih mudah karena hanya dilem saja ke tembok. Lem yang digunakan adalah sealent. Sealent selain berguna untuk merekatkan skirting ke tembok, juga digunakan untuk menutupi sekat rongga antara skirting dan tembok. Penggunaan skirting pada rongga tersebut lebih untuk tujuan estetika saja supaya lebih terlihat rapi.

pic: uniquecarpetdecorindonesia

Demikian artikel yang dapat kami bagikan, selamat bereksperimen dengan lantai laminate Anda! Salam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *